Welcome to MillahIbrahim.net

Home | Kajian Lepas | Kajian Serial | Manhaj Risalah | Buku Tamu | Webmail | Lanibin
 
::: Kajian Lepas
· Muqaddimah
· Pastikan Anda Masuk Syurga
· Ayat-Ayat Mutasyabihat
· Al Qur'an, Antara Rahmat dan Laknat
· Al Qur'an dan Perselisihan Umat
· Download Materi

::: Kajian Serial
· Mencari Pesanan Allah
· Dholuuman Jahuulan
· Tiga Golongan Manusia
· Yang Harus Terbawa Pulang
· Mencari Akses Hidayah
· Iman dan Pertumbuhannya
· Melacak Syetan
· Memblokir Syetan
· Menutup Jalur-Jalur Syetan
· Mencari Hakikat Iman
· Hakikat Al-Qur'an dalam Sistem Hidayah
· Menyingkap Alam Gaib

::: Manhaj Risalah
· Muqaddimah
· Potensi dan Kelemahan Manusia
· Ketika Datang Petunjuk Allah, dan Diikuti
· Esensi Amanah
· Distorsi dan Kerancuan
· Telusur Jalan yang Lurus
· Millah Ibrahim
· "Syajaroh Thoyyibah" berbuah "Sab'ah Thoyyibah"
· Antara Dienul Islam dan Peradaban Islam
· Kesatuan Asasi dan Keanekaragaman Budaya
· Asas-Asas Pembangunan Peradaban Islam
· Khotimah
· Download Materi

::: General Features
· Buku Tamu
· Feedback to Webmaster
· Beritahu Situs ini ke Teman
· Statistik MillahIbrahim.net

::: Member Features
· List Member/Anggota
· Daftar Member Baru
· Kirim Tulisan/Berita
· Webmail MillahIbrahim.net

::: Pengunjung Online

Saat ini terdapat 4 orang pengunjung yang sedang online.


 
::: MANHAJ RISALAH :::
- POTENSI DAN KELEMAHAN MANUSIA -

Allah   Kelebihan yang dimiliki manusia, yakni perasaan, keinginan dan kemampuan berfikir sangat dibutuhkan dalam pembangunan peradaban di muka bumi. Akan tetapi dengan kelengkapan yang dimilikinya, justru manusia menjadi makhluk pemberontak atau pembangkang. Mereka malah mengikuti perasaan dan keinginan hawa nafsunya masing-masing. Membuat rencana-rencana sendiri, mencanangkan tujuan dan cita-cita (ideologi) masing-masing di muka bumi ini, seakan-akan merekalah pemilik bumi ini, pemilik rencana dalam penciptaan kehidupan di bumi ini. Maka terjadilah perselisihan, pertentangan dan kekacauan di muka bumi.  


Untuk mampu menjalankan peran tertentu yang Allah tetapkan, dan merupakan peran utama dalam menjalankan sebagian dari “skenario” Allah tersebut, maka manusia itu haruslah merupakan makhluk yang diberi potensi untuk berkemampuan membangun peradaban di bumi, yakni makhluk yang dilengkapi dengan perasaan, keinginan dan kemampuan berfikir ( rasa – karsa – cipta ), yang kemudian Allah menyebutnya af`idah (fungsi-fungsi jiwa), yang pada setiap individu tumbuh berkembang dengan sifat dan taraf yang amat bervariasi.

Akan tetapi dengan kelengkapan yang sedemikian itu, justru membuat manusia menjadi makhluk pemberontak atau pembangkang. Mereka malah mengikuti perasaan dan keinginan hawa nafsunya masing-masing. Mereka jadi lengah dan lupa akan Allah, kemudian lupa siapa diri mereka sebenarnya. Mereka buat rencana-rencana sendiri, mencanangkan tujuan dan cita-cita (ideologi) masing-masing di muka bumi ini, seakan-akan merekalah pemilik bumi ini, seakan-akan merekalah pemilik rencana dalam penciptaan kehidupan di bumi ini. Maka terjadilah perselisihan, pertentangan dan kekacauan di muka bumi.

Sebagian mereka tumbuh dan tampil sebagai kelompok manusia pintar yang berilmu dan ambisius, namun hawa nafsu mendominasi dirinya. Lalu mereka saling berpacu mengejar harta, kesenangan dan kekuasaan. Sebagian lagi membiarkan dirinya dalam kebodohan, kegelapan dan buaian angan-angan dan khayalan. Jadilah mereka golongan yang tertipu dan terpedaya, tanpa mereka sadari, mereka menjadi penambah bilangan dan kekuatan pembangkang.

Fenomena sedemikian itu telah merupakan bagian dari ilmu Allah (Kalimatullah). Sesuatu yang memang dimungkinkan (meski tidak diinginkan) terjadi, menurut perangkat lunak (soft wear) yang Allah aplikasikan dalam pola kehidupan manusia.

"Manusia itu tidak lain melainkan sebagai satu ummat, lalu mereka berselisih. Kalau saja tidak karena suatu kalimat (konsep) yang telah mendahului (mendasari), sungguh telah diputuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih". (Yunus : 19 )

Akan tetapi tentunya perselisihan dan pembangkangan manusia itu bukanlah hal yang diinginkan, bahkan tidak bisa ditolerir, karena justru akan mengakibatkan bencana dahsyat bagi kehidupan manusia itu sendiri. Maka karena kasih sayang-Nya, Allah menurunkan petunjuk dan peringatan kepada manusia agar mereka tidak pernah lalai dan lengah akan Allah, posisi-Nya dan posisi mereka sendiri.



Sebelumnya  | 1  | 2  | 3  | 4  | 5  | 6  | 7  | 8  | 9  | 10  | 11  | 12  | Selanjutnya |

  

Penanggung Jawab : Amirul 'Am Abdul Halim Muhajir
Editor & Content Management : Fauzy Sya'banie - Technical Support : Husein

Dedicated to : Muslimin Fillah Rahimahumullah
Copyright © 2004 Ummuddar Kuningan, Jawa Barat