|
| ::: KAJIAN LEPAS ::: |
| - AL QUR'AN, ANTARA RAHMAT DAN LAKNAT - |
|
|
 |
|
Telah
menjadi pandangan dan keyakinan yang merata di kalangan orang-orang Islam
bahwa Al Qur’an itu adalah Rahmat dari Allah. Tapi sudahkah kita cermati
bahwa Rahmat dari Al Qur’an itu adalah bagi orang-orang Mukmin,
sedangkan bagi orang-orang yang zalim itu malah sebaliknya, justru mereka
mendapatkan kerugian. |
|
|
Sub Judul :
· Muqaddimah
· Karunia dan Rahmat Allah
· Bagaimana Mendapatkan Rahmat ?
· Siapa yang Dirugikan Al Qur'an ?
MUQADDIMAH
“Dan Kami menurunkan dari Al Qur’an itu sesuatu yang berupa Rahmat bagi orang-orang mukmin, Namun Al Qur’an itu tidak memberi nilai tambah bagi orang-orang yang dzalim kecuali kerugian”
(Al Isro : 82)
“Perumpamaan orang-orang yang diembankan Taurot kepada mereka tapi kemudian mereka tidak mengembannya, adalah seumpama keledai yang memikul kitab-kitab besar. Sungguh buruk ihwal orang-orang yang mendustai ayat-ayat Allah, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim”
(Al Jumu’ah : 5)
“Kalau saja Al Qur’an ini Aku turunkan kepada sebuah gunung, pasti kamu lihat gunung itu khusyu, ambruk terpecah belah, disebabkan takut Allah. Itulah perumpamaan yang kami gelar utuk manusia agar mereka berfikir.
(Al Hasyr : 21)
“Tak jarang bahwa seseorang membaca Al Qur’an, namun Al Qur’an itu melaknat pembacanya”.
(Al Hadits)
Telah menjadi pandangan dan keyakinan yang merata di kalangan orang-orang Islam bahwa Al Qur’an itu adalah Rahmat dari Allah. Tapi sudahkah kita cermati bahwa Rahmat dari Al Qur’an itu adalah bagi orang-orang Mukmin, sedangkan bagi orang-orang yang zalim itu malah sebaliknya, justru mereka mendapatkan kerugian.
Oleh sebab itu, agar tidak tertipu oleh bayangan ilusi atau angan-angan kosong (“amaniyya”) perlu kita selidiki lebih cermat lagi beberapa hal, paling tidak :
- Apakah Rahmat itu dan sejauh mana urgensinya bagi kita ?
- Yakinkah kita telah dipandang Allah sebagai orang Mukmin ?
- Siapa yang Allah maksud dengan orang-orang dzalim itu ? Yakinkah kita tidak termasuk kategori mereka ?
Semua itu harus berhasil kita temukan jawabanya secara tuntas dan meyakinkan. Karena segala hal yang berkaitan dengan janji dan ancaman Allah, bukan hal yang main-main. Segala yang berkaitan dengan akibat di Hari Akhir, tidak boleh kita merasa puas dan cukup dengan keadaan yang tidak meyakinkan, perkiraan, bagaimana nanti dan semacamnya. Karena Hari Akhir adalah hari yang tidak ada lagi kesempatan untuk perbaikan, tidak ada lagi hari esok dan tidak bisa kembali ke hari kemarin.
Tidaklah salah keyakinan orang-orang Islam bahwa Al Qur’an itu adalah pedoman hidup atau konsep kehidupan yang datang dari Sang Maha Pencipta, yang pasti memiliki nlai paling tinggi dan paling sempurna dibanding konsep hidup dari manapun/produk siapapun. Maka sudah sepantasnya sekali bahwa kehidupan ummat yang berpedoman kepada ajaran yang bernilai tinggi dan sempurna itu, akan tampil paling tinggi dan terpuji diantara umat-ummat lainnya.
Namun kenyataan dan fakta-fakta yang ada, nyaris bertolak belakang dengan teori diatas. Hampir di seluruh belahan bumi ini, di barat maupun di timur, selama berabad-abad, ummat Islam atau “bangsa-bangsa Muslim” selalu saja termasuk kelompok yang terdesak, tertekan, terpuruk terbelakang bahkan terjajah dan terhina.
Muncullah apologia penghibur diri: “Biarlah di dunia ini kita kalah, dan hina di mata mannusia, asalkan mulia disisi Allah dan bahagia di akhirat”. Kedengarannya memang benar begitu, tapi yakinkah bahwa itu bukan sekedar angan-angan kosong? Tidakkah kita perlu khawatir kalau ini merupakan adzab atau kutukan dari Allah karena para “pengemban Kitab” ini justru menghianatinya?
Maka dari itu, cobalah kita simpan dulu apologia tadi, untuk kemudian kita mentafakkuri realitas ini dan mencermati ayat-ayatNya, untuk bisa sampai kepada visi dan keyakinan yang benar-benar “Al Haq”, dan terhindar dari ketertipuan oleh angan-angan kosong.
"Dan di antara mereka adalah orang-orang yang buta huruf tidak mengerti Al Kitab kecuali angan-angan kosong belaka, dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga" (Al Baqoroh : 78)
| Sebelumnya | 1 | 2 | 3 | 4 | Selanjutnya |
|
|